![]() |
Gambar : Stefanus Antonius Lodan Making (doc. sultan) |
Lembata ,|| wartapers.com - Suasana haru dan penuh nostalgia menyelimuti perayaan 50 tahun emas Sekolah Dasar (SD) Inpres Waiwaru di Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Acara yang digelar pada Jumat, 24 Januari 2025, ini berlangsung di halaman depan SD Inpres Waiwaru, menghadirkan ratusan alumni dari berbagai penjuru. Meski puncak perayaan sejatinya dijadwalkan pada 8 Januari 2025, perayaan harus diundur karena beberapa kendala teknis.
SD Inpres Waiwaru berdiri pada 8 Januari 1975 berkat visi besar Stefanus Antonius Lodan Making, atau STA Making. Sosok visioner ini dikenal tidak hanya sebagai kepala desa yang berdedikasi, tetapi juga seorang guru yang penuh cinta pada pendidikan. Dalam kondisi serba terbatas, ia berjuang memastikan anak-anak RK I Waiwaru dan sekitarnya memiliki akses pendidikan dasar.
"STA Making adalah simbol perjuangan dan pengabdian tanpa batas. Beliau memastikan pendidikan menjangkau semua anak di desa ini, meski tantangannya begitu besar," ujar Linus Lusi, salah satu alumni yang hadir dalam sambutannya mewakili alumni.
Momen mengenang jasa besar STA Making semakin terasa ketika Linus Lusi, yang saat ini dipercayakan sebagai Penjabat Wali Kota Kupang dan mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyampaikan testimoni mendalam. "Pak Stefanus Lodan Making adalah seorang pejuang sejati. Ia tidak hanya memimpin desa ini dengan bijak, tetapi juga menanamkan fondasi pendidikan yang begitu kuat. Saya pribadi terinspirasi oleh dedikasi beliau. Non scholae sed vitae discimus — kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk kehidupan," ujar Linus dengan penuh penghormatan.
Linus juga mengenang bagaimana STA Making, dengan latar belakang pendidikannya di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Kupang, membawa ilmu dan gagasannya kembali ke desa. "Beliau menggunakan semua yang ia pelajari untuk membangun pendidikan dasar yang tangguh di sini. Tanpa beliau, mungkin kita tidak akan merayakan 50 tahun SD Inpres Waiwaru hari ini," tambahnya.
Pada masa-masa awal berdirinya, SD Inpres Waiwaru hanyalah sekolah sederhana yang terletak di bawah rindangnya pohon Lamatoro, jauh dari pemukiman penduduk, tanpa listrik, dan dengan fasilitas seadanya. Anak-anak duduk berdesakan di bangku yang terbatas, dan guru-guru bekerja keras menghadapi segala kesulitan. Namun, sekolah ini tetap berdiri teguh, menjadi tonggak perubahan bagi masyarakat setempat.
Perayaan emas ini menjadi ajang berbagi kisah sukses dari para alumni yang telah menorehkan prestasi di berbagai bidang. Di antaranya adalah Siprianus Duran Lamau, dosen teknik di Universitas Nusa Cendana (Undana); pekerja teknik Patrisius Tupen Balawanga, pengacara ternama di Batam; Kornelis Baki, Wakil Kepala Sekolah SMA Sariputra Jambi Rafael Raya. Nama-nama lain seperti Gaspar Geroda, Sekcam Wulanggitang di Flores Timur; Karolus Kelemur; Ancis Matarau, komponis sekaligus penyanyi; serta sejumlah tokoh lainnya turut hadir atau memberikan kontribusi untuk menyukseskan acara ini.
"Kami tidak akan pernah lupa bahwa semua ini dimulai dari SD Inpres Waiwaru. Pendidikan yang kami terima di sini membentuk karakter kami, memberikan fondasi kuat untuk masa depan," kata Patricius Tupan Balawanga dari Bandung, Jawa Barat.
Selain sebagai ajang reuni, acara ini juga menjadi momentum refleksi atas perjuangan STA Making dan guru-guru terdahulu. Kisah-kisah mereka diabadikan sebagai pengingat bahwa pendidikan adalah fondasi bagi kemajuan masyarakat.
Meski sempat tertunda, perayaan 50 tahun ini tetap berjalan penuh makna. Warisan STA Making terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk menjaga dan melanjutkan apa yang telah dirintisnya. SD Inpres Waiwaru kini bukan sekadar sekolah, tetapi juga simbol dedikasi, perjuangan, dan harapan yang terus menyala bagi masyarakat Desa Todanara.
50 tahun bukan sekadar angka, melainkan perjalanan penuh makna. Untuk semua alumni, kisah ini adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan masa lalu, mengingatkan bahwa pendidikan adalah cahaya yang tak pernah padam.
Pewarta: Sabatani
Editor: Redaksi