Notification

×

Iklan

Iklan

SD INPRES WAIWARU DALAM KENANGAN : SEBUAH CATATAN OLEH BAKI BALAWANGA, ALUMNI 1994.

Kamis, 23 Januari 2025 | Januari 23, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-01-24T01:57:25Z

 




Artikel, || wartapers.com - Syukur bagi Tuhan Sang Pencipta dan pemberi kehidupan. Terima kasih Lewo Watan Waiwaru Tanah Naman Selan Lili. Dari Bumi Segantang Lada, Bunda Tanah Melayu, Kota Batam, Kepulauan Riau, saya membuat catatan sederhana ini dengan rasa haru dan bangga. Saya menulis beberapa kisah lucu nan polos baik yang dialami saya sendiri maupun teman-teman seangkatan. Ada juga beberapa pengalaman menantang yang telah menempah perjalanan hidup dan turut membentuk pribadi saya sebagai salah seorang alumni SD Inpres Waiwaru.

Tahun ajaran baru 1988, saya menginjakan kaki untuk pertama kalinya di sebuah taman Pendidikan dasar bernama SD Inpres Waiwaru. Lugu, polos dan tidak mengerti apa-apa. Apalagai saya berasal dari “Nuba Pebosi” sebutan untuk sebuah tempat pemukiman lama yang orang-orangnya saat itu lebih memilih mengayunkan cangkul di kebun  dan berjemur panas mentari menjadi penggembala kuda dan kambing dari pada ke sekolah untuk belajar. Hari pertama saya masuk kelas hanya bertahan setengah jam dan langsung bolos dua hari. 


Alasanya di dalam ruang kelas tersebut yang duduk di depan kelas adalah mama saya almarhumah SULA WADANG. Untuk apa sekolah kalau yang ajar mama SULA WADANG, protes saya dalam hati. Maklum bocah polos bernama lengkap Kornelis Boli Balawanga, saat itu belum paham bahwa mama almarhumah SULA WADANG adalah seorang guru honor. Dua hari tidak mau sekolah bapak saya galau berat. “Saya sudah buta huruf, kau tidak mau sekolah, mau jadi apa kita” protes bapa saya yang tak pernah hilang dalam ingatan. Hari ketiga saya masuk sekolah ternyata di depan kelas ada sosok guru berperawakan hitam manis. Tampangnya bijaksana dan berwibawa. Dia lembut dalam cara tapi tegas dalam prinsip yang membuat saya jatuh cinta untuk terus belajar. Sosok berbudi itu bernama Petrus Lia Goran, Kepala sekolah sekaligus guru kelas I saat itu.


Waktu kelas II SD saya punya kisah lucu dan masih jadi bahan candaan teman-teman seangkatan saya. Wali kelas II saat itu adalah sosok tegas dengan prinsip di ujung rotan ada emas. Dia adalah almarhum guru Lambertus Doni Ola. Prinsip belajarnya adalah jika ada pertanyaan harus dijawab dengan tegas dalam bahasa Indonesia. Kalau tidak jawab atau jawab dalam bahasa daerah maka ayunan rotan siap mendarat di tubuh. Saat itu tidak berlaku Undang-Undang Perlindungan Anak bagi  seorang guru Lambertus Doni Ola.  Cambukan rotan bukan karena benci. Ini adalah rotan kasih sayang yang di ujungnya nanti ada emas atau berbuah keberhasilan.


Saat perkenalan di kelas II, saya ditanya oleh pak Lamber nama sapaannya. Kamu tinggal dimana? Saya tiba-tiba gugup dan bingung mau jawab apa karena  yang terlintas di pikiran saya bukan dusun Riang Papa tetapi WITI ONE. Saat itu mana saya mengerti WITI ONE sebagai nama tempat. Saya pikir ini  adalah frasa bahasa daerah yang harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Jadi begitu pak Lamber mengulangi pertanyaan kamu tinggal dimana? Saya langsung sigap menjawab, “saya tinggal dalam perut kambing” alias WITI ONE, yang langsung disambut gelak tawa satu ruang belajar. 


Di kelas III kami dibimbing oleh  guru  dengan style low profile yakni Matias Kedang dan lanjut kelas IV dengan sentuhan hati penuh keibuan dari ibu Maria Lema. Di Kelas V kami dituntun oleh sosok guru yang begitu familiar di hati dan telinga ribu ratu desa Todanara. Dia adalah guru Nikodemus Lei. Banyak bakat-bakat terpendam dari siswa Waiwaru berhasil digali dan diorbitkan dari tangan dingin  seorang Nikodemus Lei. Angkatan kami mengakhir tahun keenam atau terakhir bersama sosok guru muda yang juga jogo musik yakni Darius Duru Lewar. Dia tidak hanya jago music tetapi jago juga melumpuhkan musuhnya “Trio Preman Cilik” Waiwaru saat itu yakni Karolus Kidiaman, Hermanus Topi Mataru dan Siprianus Samun. 



Bagi Trio preman cilik ini Matematika adalah pelajaran yang paling menjengkelkan karena selalu disuruh maju kedepan untuk mengerjakan soal-soal matematika. Hari itu Pajajaran Matematika belum tuntas maka dilanjutkan sore hari. Dulu ada namanya studi sore. Trio preman cilik pun menyusun rencana untuk melakukan sabotase terhadap ruang kelas pada saat les sore. Mereka mencari tumbuhan yang bisa membuat rasa gatal yang namanya KEDAH, bawa masuk  dalam kelas dan digosok di kursi guru tempat pak Darius akan duduk. Setengah jam berselang Darius Duru Lewar yang masih muda dan gemar memakai celana pendek saat studi sore mulai masuk kelas. Lewat 20 menit racun Kedah mulai bereaksi. Pak Darius mulai garuk-garuk di bagian kaki dan paha sambal bertanya ada apa ini? Kok gatal sekali. Pada saat itu Trio preman cilik sudah diminta maju ke depan kelas dan mereka tampil tanpa dosa. Ketika pak Darius merasa kesakitan dan meminta mereka segera selesaikan soal matematika di depan kelas, Trio cilik malah menantang. Sudah stres dengan racun kedah yang membuat gatal di seluruh tubuh, ditantang pula sama Tiro cilik. Pak Darius melayangkan pukulan selamat datang lalu dibalas oleh Trio cilik. Guru dan murid unjuk gigi. Selama beberapa menit ruang kelas VI sore itu berubah seperti ring tinju. Pertunjukan gratis sore itu pun berakhir dengan kemenangan di tangan pak Darius walupun personilnya 3 lawan 1. Guru tak mungkin dikalahkan, karena guru tetap guru.


Selain sekilas cerita lucu dan polos saya mengingat beberapa kisah penting yang menjadi refleksi di HUT Emas 50 tahun SDI Waiwaru. Tahun 1988 lewo watan Waiwaru Tanah Naman Selan Lili tidak seramai dan maju seperti saat ini. Waiwaru hanyalah sebuah dusun kecil dalam wilayah pemerintahan desa Jontona. Praktis saat itu dalam  1 desa ada 2 sekolah. Ada SDI Waiwaru yang berada di dusun I Waiwaru, dan SDK Baopukang yang ada di dusun III Tua One. Pemerintah dan aparat desa saat itu sepertinya membuat kesepakatan dan pembagian sekolah. Anak-anak dari dusun I Waiwaru dan dusun II Riang Papa harus sekolah di SD Inpres Waiwaru. Sedangkan anak-anak dari dusun III Tua One dan dusun IV Wangalarang sekolah di SDK Baopukang. 


Dengan pembagian seperti di atas maka kami anak-anak dari Riang Papa harus bersiap jalan kaki pergi pulang lebih dari  1 kilometer setiap harinya selama 6 tahun. Akses jalan  masih beralaskan bongkahan batu besar. Tanjakan Lapo One dan Hanimura tidak selandai saat ini. Tetapi demi sekolah agar bisa tau baca dan tulis, peluh keringat menjadi parfum rutin yang menetes di baju seragam kami. Benar-benar zaman penuh keterbatasan. Tidak ada sepeda, tidak ada motor, apalagi mobil. Kendaraan satu-satunya yang mengantar pergi dan pulang sekolah adalah “jalan kaki”. Secara pribadi saya punya kendaraan pengganti yakni Kuda. Jika sudah terlambat atau rasa malas, pergi ke sekolah menunggang Kuda adalah pilihan yang tepat di zaman itu. Kuda diikat di belakang sekolah, seusai sekolah langsung loncat di punggung kuda menuju padang pengembalaan bantu orang tua

Pergi ke sekolah tidak hanya untuk belajar, tetapi juga membantu orang tua cari uang. Sudahlah jalan kakai masih ada kawan yang datang ke sekolah sambil junjung dulang untuk jual pisang. Ada yang junjung bakul kecil untuk jual Kepa alias Bengkuang dan buah lainnya, ada yang tenteng tas Kelombu dan peluk toples jual kue. Begitu juga dengan komunikasi. Belum ada telpon rumah apalagi handphone. Semua komunikasi terkait urusan sekolah harus ketemu langsung atau lewat surat. Malam hari tidak ada listrik. Pelita adalah teman setia di malam hari. Semua serba keterbatasan namun para pendidik saat itu tak pernah patah semangat memberikan motivasi agar dalam keterbatasan belajar tetap diutamakan. Seperti adagium Latin yang berbunyi  “Non Schola Sed Vitae Discimus” yang berarti kita bejar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup. Karena belajar dari SDI Waiwaru itulah, kini kita semua  hidup dan  mengabdi baik di lewutanah  maupun kami yang soga naran lewutanah dari tanah rantau.


Terima kasih untuk semua orang tua kami, terima kasih untuk lewo watan Waiwaru tanah naman selan lili. Penghargaan dan terima kasih untuk semua guru yang telah menyentuh hati kami, membuka pikiran kami dan membantuk masa depan kami.




Pewarta: Sabatani 

Editor: redaksi 

×
Berita Terbaru Update