Notification

×

Iklan

Iklan

Mengalir Seperti Air, Doa Mengalun di Malam Syahdu, Mengenang Kasih Yang Telah Pergi.

Selasa, 04 Februari 2025 | Februari 04, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-02-05T02:27:38Z

 


Kupang, ||wartapers.com – Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kebersamaan dalam suka maupun duka adalah nilai yang terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat. Inilah yang tampak dalam doa Yasin dan Tahlilan yang diselenggarakan keluarga besar Rumiyanik di RT 23/RW 12, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Selasa malam (4/2/2025).


Suasana pembacaan Surat Yasin dan Tahlilan 100 hari, tradisi komunitas Muslim untuk almarhum Murdiyanto, berlangsung khidmat. Acara ini digelar untuk mengenang 100 hari kepergian Murdiyanto Bin Ami Hardjo, ayahanda dari Ibu Rumiyanik. Doa yang dipimpin Ustaz Jaka dari Masjid Al-Mujahidin Penfui ini menghadirkan ratusan keluarga dan undangan, termasuk pengurus lingkungan RT dan RW setempat.


Dalam suasana yang khusyuk, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema. Para hadirin, dengan penuh kekhusyukan, mengikuti pembacaan Yasin dan Tahlil, memohonkan ampunan dan kedamaian bagi almarhum. Ustaz Jaka dalam tausiyahnya menekankan pentingnya doa sebagai bentuk cinta dan penghormatan bagi mereka yang telah berpulang.


“Semoga doa yang kita panjatkan diterima oleh Allah SWT dan meringankan perjalanan almarhum di alam kuburnya. Selain itu, doa ini juga menjadi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujar Ustaz Jaka.


Sementara itu, Ibu Rumiyanik, mewakili keluarga, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh undangan yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berdoa bersama. Baginya, kebersamaan dalam doa adalah bukti kasih sayang dan solidaritas yang begitu berarti.


"Berharap doa yang disampaikan melapangkan jalan bagi bapak. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ustaz, para imam masjid, serta seluruh keluarga dan tamu undangan atas kehadirannya," ungkap Rumiyanik dengan haru.


Yang menarik, doa bersama ini tak hanya dihadiri oleh umat Muslim. Sejumlah warga Kristen dan Katolik juga hadir, menunjukkan bahwa empati dan kepedulian lintas iman tetap hidup dalam keseharian masyarakat Kota Kupang.


Di tengah suasana penuh hikmat, kebersamaan terasa begitu erat. Usai doa, para tamu yang hadir berbincang santai, saling menguatkan, dan menikmati hidangan sederhana yang disiapkan keluarga. Malam itu bukan sekadar pertemuan, tetapi juga pengingat bahwa dalam duka, ada kehangatan kebersamaan.


Seperti air yang mengalir, doa-doa pun mengalun, membawa harapan agar yang berpulang mendapatkan ketenangan, dan yang ditinggalkan tetap diberi ketabahan. 


Pewarta: takene, sabatani.

Editor: redaksi 

×
Berita Terbaru Update