Notification

×

Iklan

Iklan

Bupati Lembata Dituntut "Sembuhkan Penyakit Bawaan" Bernama Pasar Dadakan dan Sampah.

Jumat, 07 Maret 2025 | Maret 07, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-08T01:19:51Z

 


Lembata , wartapers.com - Masalah pasar dadakan dan sampah di sejumlah sudut Kota Lewoleba sepertinya menjadi semacam  "penyakit bawaan" yang terus berulang dari periode ke periode. Meski sudah berkali-kali menjadi perhatian pemerintah daerah, persoalan ini tak kunjung tuntas juga. Di awal kepemimpinannya, Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, dan Wakil Bupati, H. Muhammad Nasir Laode, dituntut untuk segera mencari solusi agar masalah klasik ini benar-benar terselesaikan, bukan sekadar menjadi wacana tanpa tindakan nyata.


Hal itu disampaikan seorang pedagang di Pasar Pada saat Bupati Kanisius Tuaq dan Wakil Bupati Muhammad Nasir melakukan kunjungan ke pasar tersebut pada Jumat (7/3/2025), dalam rangka peringatan Statement 7 Maret 1954—hari bersejarah bagi masyarakat Lembata. Bupati dan Wakil Bupati turun langsung meninjau kondisi perdagangan sekaligus berdialog dengan para pedagang. Dari kunjungan ini, mereka mendapati bahwa keberadaan pasar dadakan yang beroperasi di Blok M Walangkeam juga daerag Dolog Lamahora sangat mengganggu pedagang resmi di Pasar Pada, Pasar Lamahora, dan Pasar TPI. Sementara itu, sampah yang berserakan di hampir semua sudut kota semakin memperburuk wajah Lewoleba.


Pasar dadakan ini mayoritas diisi oleh pedagang ikan dan sayur yang menjajakan dagangannya di trotoar dan bahu jalan. Keberadaannya menarik banyak pembeli karena lokasinya strategis dan lebih mudah diakses dibandingkan pasar resmi. Kondisi ini praktis merugikan pedagang di Pasar Pada, Pasar Lamahora, dan Pasar TPI.


Selain menimbulkan ketimpangan ekonomi bagi pedagang resmi, keberadaan pasar dadakan juga menyebabkan ketidaktertiban lalu lintas serta permasalahan kebersihan. Sampah sisa dagangan, terutama dari ikan dan sayur, sering dibiarkan begitu saja sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu kenyamanan warga sekitar.


"Kami melihat langsung bagaimana kondisi pasar dan persoalan yang dihadapi para pedagang. Ini harus segera dicarikan solusi agar ekonomi rakyat tetap berjalan dengan baik," ujar Bupati Kanisius.


Bupati dan Wakil Bupati juga menyempatkan diri berdialog dengan para pedagang di Pasar Pada dan mendengarkan keluhan mereka. Salah satu pedagang mengungkapkan bahwa dagangannya sering tidak habis terjual karena pembeli lebih memilih pasar dadakan yang lebih dekat dan lebih praktis.


Mendengar keluhan ini, Wakil Bupati Muhammad Nasir berjanji akan menggelar rapat koordinasi dengan OPD terkait untuk membahas penataan ulang lokasi perdagangan.


"Kita harus mencari solusi yang tidak merugikan pedagang, tetapi juga tetap menjaga ketertiban kota. Ada aturan yang harus dipatuhi, dan kami akan mencari jalan tengah yang bijak," katanya.


Selain persoalan pasar, kebersihan kota juga menjadi perhatian serius. Banyaknya sampah di kawasan pasar menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Lewoleba belum berjalan maksimal. Bupati meminta Dinas Lingkungan Hidup segera memperbaiki sistem pengangkutan sampah agar lebih efektif dan mengedukasi pedagang untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.


Tak hanya menyoroti masalah, Bupati dan Wakil Bupati juga mengapresiasi aksi bersih-bersih yang dilakukan OPD bersama masyarakat dalam rangka Statement 7 Maret 1954. Mereka berharap semangat gotong royong ini terus berlanjut, tidak hanya dalam peringatan hari besar, tetapi juga menjadi kebiasaan sehari-hari.


Di akhir kunjungan, keduanya menegaskan bahwa pekerjaan rumah yang mereka temui hari ini tidak hanya akan menjadi target 100 hari kerja, tetapi juga agenda besar selama lima tahun ke depan.


"Kami siap bekerja keras, tetapi tentu butuh dukungan dari masyarakat agar setiap kebijakan yang diambil bisa berjalan efektif," tutup Bupati Kanisius.


Masyarakat kini menanti langkah konkret berikutnya. Akankah pasar dadakan dan sampah di Kota Lewoleba benar-benar bisa ditangani, atau hanya menjadi "penyakit bawaan" yang terus diwariskan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya?


Pewarta: Sabatani

Editor: redaksi 

×
Berita Terbaru Update