Lembata, wartapers.com – "Beribu-ribu orang bergantung pada kita. Mereka mungkin tidak pernah melihat kita, tetapi apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan mereka. Setiap janji dan rencana tidak hanya tertulis di kertas, tetapi harus benar-benar terealisasi di lapangan demi anak cucu," kata Camat Lebatukan, Moses Museng, dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Lebatukan 2025, Senin (24/3).
Menurut Moses, Musrenbang bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting untuk memastikan bahwa setiap rencana benar-benar diwujudkan. "Jangan sampai Musrenbang hanya jadi daftar panjang harapan yang tak pernah terealisasi. Kita harus memastikan bahwa program-program yang kita usulkan dapat dieksekusi dengan baik," ujarnya.
Musrenbang kali ini mengusung tema Nelayan, Tani, Ternak, menegaskan bahwa pembangunan harus berpihak pada sektor yang menjadi tumpuan hidup mayoritas warga. Bertempat di aula kantor camat, forum ini dihadiri oleh Asisten I Setda Lembata, Iren Suciady, mewakili Bupati Lembata, para kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) se-Kecamatan Lebatukan, serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). "Kami ingin pembangunan benar-benar menyentuh aspek yang paling dibutuhkan masyarakat, khususnya dalam sektor ekonomi berbasis sumber daya lokal," kata Moses.
Salah satu persoalan mendesak yang dibahas adalah infrastruktur jalan. Ruas jalan antar desa masih menjadi tantangan bagi mobilitas masyarakat, terutama jalur Lerahinga-Banitobo-Lamalela-Dangalangu dan Balurebong-Wade yang kondisinya jauh dari layak. "Bayangkan, ibu hamil yang hendak melahirkan harus melewati jalan berlumpur dan berbatu sejauh belasan kilometer. Itu bukan sekadar cerita, itu kenyataan yang dihadapi warga kami," ujar Moses. Ia juga menekankan bahwa tanpa infrastruktur yang baik, perekonomian masyarakat sulit berkembang.
Di sektor kesehatan, fasilitas kesehatan di Lebatukan juga menjadi sorotan. Beberapa puskesmas pembantu (Pustu) dan polindes dalam kondisi rusak berat. Menurut Moses, hampir semua desa sudah memiliki tenaga medis, tetapi juga ada desa yang praktis tidak memiliki tenaga medis tetap, sehingga pelayanan kesehatan berjalan seadanya. "Kami sudah mengusulkan renovasi polindes di Seranggoran dan Banitobo, tapi itu belum cukup. Sarana kesehatan adalah urusan nyawa, tidak bisa ditunda," tegasnya. Ia juga mengatakan bahwa insentif bagi tenaga kesehatan harus menjadi perhatian serius agar mereka mau bertugas di daerah terpencil.
Di bidang pendidikan, dengan 19 SD, 6 SMP, 5 rombongan belajar/PAUD, dan 1 SMA, Lebatukan memiliki potensi pendidikan yang besar. Namun, kondisi bangunan sekolah dan kurangnya fasilitas penunjang masih menjadi masalah utama. "Kami ingin anak-anak Lebatukan bersaing di dunia luar, tetapi bagaimana mereka bisa belajar dengan baik jika ruang kelas mereka bocor saat hujan?" ungkap Moses. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengusulkan program rehabilitasi sekolah, terutama untuk bangunan yang sudah berusia puluhan tahun tanpa perawatan memadai.
Lebatukan juga memiliki potensi wisata luar biasa yang menunggu sentuhan. Salah satu yang disoroti dalam Musrenbang adalah fenomena alam Daerah Dua Waktu di Desa Balurebong. "Di satu titik, jika kita bergeser ke kanan, matahari lebih cepat tenggelam, sementara ke kiri masih terang. Ini fenomena alam yang sangat unik," ujar Moses dengan antusias. Ia juga mengatakan bahwa jika dikembangkan dengan baik, destinasi ini bisa menjadi daya tarik wisata unggulan.
Selain itu, kawasan Pantai Bobu dengan jembatan alami serta rumah batu alami di pesisir juga diusulkan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Bahkan, fenomena Tanah Lot di Desa Banitobo yang menyerupai ikon wisata Bali pun menjadi perhatian. "Namun, kendala utama dalam pengembangan wisata adalah aksesibilitas dan promosi. Tanpa jalan yang baik dan strategi pemasaran yang jelas, potensi wisata Lebatukan hanya akan menjadi cerita bagi segelintir orang," kata Moses.
Permasalahan lainnya yang mengemuka dalam diskusi adalah batas antar kecamatan dan desa, yang praktis menghambat pembangunan. Hingga kini, batas antara Lebatukan dengan Omesuri, Ile Ape, Nubatukan, dan Atadei masih belum sepenuhnya jelas. "Tanpa batas yang jelas, sulit bagi kami untuk merencanakan pembangunan secara maksimal. Kadang, ada konflik antarwarga hanya karena perbedaan persepsi tentang batas tanah," kata Moses. Ia berharap ada percepatan penyelesaian batas wilayah agar pembangunan dapat berjalan dengan lebih terarah.
Masalah lingkungan juga mendapat perhatian serius. Masih adanya praktik penangkapan ikan dengan bom dan racun di perairan selatan menjadi kekhawatiran tersendiri. "Kalau ini terus dibiarkan, beberapa tahun ke depan laut kita akan mati. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, tapi butuh kerja sama semua pihak untuk menghentikan ini," ujar Moses. Ia juga mengatakan bahwa pihaknya sedang mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi sedimentasi sungai akibat badai Seroja yang berdampak pada beberapa desa seperti Tapolangu, Tapobaran, dan Lerahinga.
Di tengah banyaknya tantangan, ada beberapa usulan yang sudah terealisasi di tahun 2024, yang tak lain adalah harapan yang mulai terjawab. Pengadaan mobil ambulans untuk Puskesmas Hadakewa telah berjalan. Pembangunan Rumah Situs 7 Maret yang sudah selesai dibangun dengan dana CSR dari Bank NTT dan BNI. Renovasi polindes di Seranggoran dan Banitobo pun mulai terealisasi. "Kami bersyukur bahwa beberapa program sudah mulai berjalan. Ini menunjukkan bahwa kerja sama antara pemerintah dan masyarakat bisa menghasilkan perubahan nyata," ujar Moses.
Musrenbang 2026 bukan sekadar forum tahunan, tetapi momentum penting untuk merancang masa depan Lebatukan dengan optimis. Moses menegaskan bahwa pembangunan harus dilakukan dengan perencanaan matang agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. "Apa yang kita rancang hari ini bukan hanya untuk kita, tetapi untuk anak-anak kita nanti. Mari bersama membangun Lebatukan yang lebih baik," pungkasnya.
Dengan semangat kolaborasi, harapan baru untuk Lebatukan mulai terbangun. Kini, tugas selanjutnya adalah memastikan bahwa setiap janji dan rencana benar-benar terealisasi di lapangan demi anak cucu.
Pewarta: Sabatani
Editor: redaksi