Notification

×

Iklan

Iklan

Lestarikan Bahasa Daerah: Suluh Insan Lestari, Lakukan Langkah Nyata Lokakarya Ortografi

Senin, 24 Maret 2025 | Maret 24, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-24T23:37:48Z

 


Lembata, wartapers.com – Di tengah arus globalisasi yang kian deras, upaya pelestarian bahasa daerah menjadi tantangan besar bagi masyarakat adat dan harapan untuk mempertahankan kekayaan linguistik itu masih menyala. Hal ini terlihat dalam Lokakarya Finalisasi Ortografi Lima Bahasa yang digelar oleh Yayasan Suluh Insan Lestari, Senin, (24/03/25). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menyusun pedoman penulisan bagi lima bahasa daerah, yakni Kedang, Ile Ape, Lewuka, Lamatuka, dan Lewoeleng.


Petrus Lambe, perwakilan Yayasan Suluh Insan Lestari, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga eksistensi bahasa daerah. Menurutnya, semangat komunitas, dukungan dari pemerintah daerah Kabupaten Lembata, serta peran aktif lembaga keagamaan menjadi faktor yang menentukan dalam melestarikan bahasa ibu.


"Semua elemen masyarakat harus bersatu. Dengan semangat yang kuat, didukung dinas terkait dan gereja yang sudah melakukan inkulturasi dalam ibadah, kita bisa menjaga bahasa daerah tetap hidup dan berkembang," ujar Petrus.


Menurut Petrus, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah pengaruh globalisasi yang begitu masif. "Akses terhadap informasi digital yang tak terbatas kerap membuat generasi muda lebih akrab dengan bahasa asing dibanding bahasa ibu,"tuturnya. "Oleh karena itu,  lokakarya ini menjadi langkah konkret dalam merawat bahasa daerah,"tambahnya.


Petrus Lambe mengatakan, salah satu hasil penting dari lokakarya ini adalah dorongan untuk mengaktifkan kembali penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga, termasuk membiasakan anak-anak berbicara dalam bahasa ibu sejak dini yang tak lain adalah kunci utama dalam menjaga kelangsungan bahasa tersebut.


Selain itu, menurut putra Toraja ini, bahwa lokakarya ini juga menghasilkan kesepakatan untuk membukukan pedoman ortografi lima bahasa yang dibahas. "Dengan adanya dokumen resmi, masyarakat memiliki acuan baku dalam menulis dan membaca bahasa mereka dengan benar,"tegasnya.


Petrus Lambe juga menyoroti kebutuhan akan kamus digital yang mudah diakses. "Pembuatan kamus bisa dilakukan dalam waktu singkat dengan metode yang telah tersedia. Jika dikerjakan bersama-sama, dalam tiga hari wokshop  komunitas bisa menyusun kamus dasar untuk bahasa daerah," jelasnya.


Tak hanya itu, penggunaan teknologi dalam pelestarian bahasa juga menjadi sorotan utama. Para peserta lokakarya sepakat bahwa software berbasis digital dapat membantu memudahkan masyarakat dalam memahami dan menggunakan bahasa daerah secara lebih luas.


Langkah selanjutnya yang akan ditempuh adalah memasukkan hasil lokakarya ini ke dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal bahasa daerah mereka dari lingkungan keluarga, tetapi juga dari sistem pendidikan formal.


Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa bahasa daerah bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga. Dengan dukungan dari berbagai pihak, upaya revitalisasi bahasa Kedang, Ile Ape, Lewuka, Lamatuka, dan Lewoeleng diharapkan dapat terus berlanjut dan semakin kuat di masa depan.


Pewarta: sabatani

Editor: redaksi 

×
Berita Terbaru Update