Lembata, wartapers.com – "Bahasa adalah identitas. Aku lahir dan mati dalam adat dan budaya." Kalimat magnetik ini menggema di aula Don Bosko saat Lokakarya Finalisasi Ortografi Lima Bahasa di Lembata resmi dibuka, Senin, (24/03/25). Kepala Dinas Pendidikan Lembata, Wenseslaus Pukan, menegaskan pentingnya menjaga bahasa ibu agar tidak hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga memiliki sistem tulisan yang kuat.
"Bahasa adalah alat dan warisan bagi anak cucu kita," ujar Pukan. Ia menekankan bahwa bahasa tidak boleh hanya hidup dalam tuturan lisan, tetapi harus diabadikan dalam tulisan agar tetap lestari. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk mendukung pengembangan bahasa daerah melalui sistem pendidikan dan kebijakan budaya.
Sementara, Petrus Lambe dari Yayasan Suluh Insan Lestari, organisasi pemerhati bahasa yang telah melakukan survei dan pengembangan ortografi di Lembata sejak dua tahun lalu, menegaskan bahwa bahasa yang terdokumentasi dengan baik akan menjadi jembatan bagi generasi mendatang.
"Kami percaya, ini bukan kebetulan. Tuhan merancangkan hal-hal baik untuk setiap kita," katanya. Ortografi, menurutnya, adalah pijakan awal untuk menjaga eksistensi bahasa. Dengan memiliki sistem tulisan yang jelas, bahasa dapat dipelajari secara sistematis dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Ia juga menekankan bahwa tugas melestarikan bahasa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. "Undang-undang sudah mengatur, tugas kita melaksanakan," ujarnya, mengacu pada UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara yang mengamanatkan pemeliharaan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan nasional.
"Sumpah Pemuda jangan kehilangan makna," lanjutnya. Jika bahasa daerah ditinggalkan, maka semangat persatuan yang menghargai keberagaman juga akan luntur. Justru dengan merawat bahasa daerah, kita semakin memperkuat identitas kebangsaan. Ia bahkan mengaitkan pentingnya bahasa dengan kisah Menara Babel, di mana Tuhan menganugerahkan keberagaman bahasa agar manusia dapat menyebar dan mengelola bumi.
Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Kepala Dinas Pariwisata, para pemerhati bahasa, serta komunitas lima bahasa yang terlibat dalam lokakarya ini. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan komunitas budaya.
Kepala Desa Lamatuka, Fransiskus Benediktus Boli, yang menjadi salah satu peserta, menegaskan bahwa menulis bahasa berarti menulis sejarah. "Dengan sistem tulisan yang jelas, bahasa daerah tidak akan terkikis oleh arus modernisasi. Sebaliknya, ia akan semakin kokoh dan mudah dipelajari oleh generasi muda."
Ia juga menekankan bahwa bahasa berkembang seiring zaman. Seperti bahasa Inggris yang terus menyerap kosakata baru, bahasa daerah pun harus fleksibel tanpa kehilangan akar budayanya. "Pendidikan adalah kunci," tambahnya. Ketahanan budaya hanya bisa dijaga jika bahasa daerah masuk dalam sistem pendidikan formal dan informal.
Petrus Lambe kembali menegaskan bahwa pelestarian bahasa adalah upaya bersama yang membutuhkan dukungan banyak pihak. "Kita tidak bisa bekerja sendiri. Bahasa adalah milik komunitas. Jika komunitas peduli, bahasa akan tetap hidup. Jika komunitas abai, bahasa akan mati perlahan." Ia berharap agar hasil lokakarya ini dapat diimplementasikan dengan serius oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
"Mari kita menulis, merawat, dan merayakan bahasa kita!" seru Petrus Lambe menutup lokakarya. Para peserta pun bertekad membawa hasil finalisasi ortografi ini ke tingkat implementasi yang lebih luas, demi memastikan bahwa bahasa daerah tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga masa depan.
Bahasa tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang sesuai dengan dinamika zaman. Oleh karena itu, penguatan bahasa daerah tidak hanya bergantung pada pelestarian semata, tetapi juga pada pengkinian data bahasa yang dilakukan secara kolektif oleh komunitas bahasa. Dengan demikian, bahasa daerah tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dan relevan bagi generasi mendatang.
Pewarta: Sabatani
Editor; redaksi